Situational Leadership di era AI: Skill Penting Leaders untuk Memimpin
Pelajari situational leadership, mengapa penting bagi leaders modern, dan bagaimana menyesuaikan gaya memimpin dengan kesiapan tim untuk hasil lebih efektif.
By Jimmy Sudirgo — — Leadership
Banyak pemimpin ingin timnya bekerja lebih mandiri, lebih cepat, dan lebih bertanggung jawab. Namun dalam praktiknya, tidak semua anggota tim membutuhkan cara memimpin yang sama.
Di sinilah situational leadership menjadi sangat relevan. Konsep ini dikembangkan pertama kali oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard, yang kemudian saya adaptasi dengan perspektif era AI dan future of work.
Apa itu situational leadership?
Situational leadership adalah pendekatan kepemimpinan di mana seorang leader menyesuaikan gaya memimpinnya berdasarkan tingkat kesiapan, kompetensi, dan komitmen orang yang dipimpinnya.
Dengan kata lain, leadership yang efektif bukan soal memakai satu gaya terbaik untuk semua situasi, tetapi soal membaca kebutuhan tim dan merespons dengan tepat.
Di dunia kerja modern, skill ini menjadi semakin penting. Tim bekerja lebih cepat, lintas fungsi lebih kompleks, ekspektasi terhadap leader lebih tinggi, dan AI mulai mengambil sebagian tugas rutin. Akibatnya, peran leader semakin bergeser: bukan hanya memberi instruksi, tetapi membantu orang bertumbuh, mengambil keputusan lebih baik, dan bekerja dengan tingkat kemandirian yang tepat.
Mengapa Situational Leadership Penting Hari Ini?
Ada tiga alasan utama mengapa situational leadership tetap relevan, bahkan semakin penting.
1. Tidak semua anggota tim berada di level kesiapan yang sama
Ada orang yang baru belajar dan butuh arahan rinci. Ada yang sudah kompeten tetapi belum percaya diri. Ada juga yang sudah siap diberi kepercayaan penuh.
Leader yang memperlakukan semua orang dengan gaya yang sama biasanya justru menciptakan dua masalah:
terlalu banyak mengontrol orang yang sebenarnya sudah siap
terlalu cepat melepas orang yang sebenarnya masih butuh arahan
2. Leadership modern menuntut fleksibilitas
Perubahan bisnis, target yang bergerak cepat, dan ekspektasi kerja yang terus berubah menuntut leader yang adaptif. Situational leadership membantu leader tidak terjebak pada satu style.
3. AI membuat peran leader semakin manusiawi
AI dapat membantu analisis, membuat ringkasan, atau memberi insight. Tetapi AI tidak bisa menggantikan judgment manusia dalam membaca kesiapan, emosi, motivasi, dan konteks personal anggota tim.
Karena itu, semakin AI masuk ke dunia kerja, semakin penting kemampuan leader untuk:
mendiagnosis kebutuhan tim
melakukan coaching
membangun kepercayaan
menyesuaikan pendekatan secara real-time
Tiga Skill Inti dalam Situational Leadership
Agar efektif, seorang leader perlu menguasai tiga skill berikut.

1. Goal Setting
Leader harus mampu menetapkan tujuan yang jelas. Orang sulit berkembang bila tidak tahu apa yang diharapkan dari dirinya.
Di sini, leader perlu memastikan:
target jelas
ukuran keberhasilan jelas
prioritas kerja tidak terlalu banyak
Dalam konteks kerja modern, tools seperti OKR bisa membantu membuat goal lebih fokus dan measurable.
2. Diagnosis
Ini adalah kemampuan membaca level perkembangan anggota tim pada tugas tertentu.
Poin pentingnya:
Development level bersifat task-specific.
Seseorang bisa sangat kompeten di satu area, tetapi kembali menjadi pemula saat mendapat tanggung jawab baru. Jadi yang didiagnosis bukan “orangnya secara umum”, melainkan kesiapannya untuk tugas tertentu.
3. Matching
Setelah mendiagnosis, leader perlu memilih gaya memimpin yang paling tepat. Di sinilah efektivitas leadership benar-benar terlihat.
Empat Gaya dalam Situational Leadership

S1 – Directing
Gaya ini cocok ketika kompetensi bawahan masih rendah, tetapi komitmennya tinggi.
Leader perlu banyak memberi arahan, menjelaskan langkah kerja, dan memastikan eksekusi berjalan benar.
Cocok untuk:
karyawan baru
anggota tim yang baru memegang proyek
tugas baru yang belum familiar
S2 – Coaching
Pada tahap ini, leader masih perlu banyak memberi arahan, tetapi juga memberi dukungan lebih besar.
Anggota tim mulai berkembang, tetapi belum cukup siap bekerja sepenuhnya mandiri.
Cocok untuk:
orang yang mulai memahami tugas
anggota tim yang masih ragu
situasi ketika motivasi mulai turun setelah fase awal belajar
S3 – Supporting
Di tahap ini, kompetensi sudah cukup tinggi. Tantangan utamanya bukan lagi kemampuan teknis, tetapi confidence, ownership, atau hambatan tertentu.
Leader perlu lebih banyak mendengar, memberi dukungan, dan melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan.
S4 – Delegating
Gaya ini cocok ketika anggota tim sudah kompeten dan berkomitmen tinggi.
Leader tidak perlu banyak mengarahkan atau mendampingi. Fokusnya lebih pada monitoring dan menjaga alignment.
Empat Level Development Anggota Tim

Situational leadership biasanya mengelompokkan kesiapan anggota tim ke empat level:
D1 – Kompetensi rendah, komitmen tinggi
Antusias, mau belajar, tapi belum mampu.
D2 – Kompetensi mulai berkembang, komitmen menurun
Sudah mulai paham, tetapi mulai merasakan tantangan dan kehilangan percaya diri.
D3 – Kompetensi sedang hingga tinggi, komitmen bervariasi
Sudah mampu, tetapi mungkin masih ragu, belum stabil, atau butuh dukungan.
D4 – Kompetensi tinggi, komitmen tinggi
Sudah siap bekerja mandiri dan bertanggung jawab penuh.
Cara Mencocokkan Gaya Memimpin dengan Kesiapan Tim
Prinsip sederhananya:
D1 → S1 Directing
D2 → S2 Coaching
D3 → S3 Supporting
D4 → S4 Delegating
Kesalahan umum leader biasanya ada dua:
terlalu lama bertahan di directing
terlalu cepat delegating
Keduanya sama-sama berisiko. Yang pertama membuat tim merasa dikontrol. Yang kedua membuat tim merasa ditinggalkan.
Bagaimana Leaders Bisa Menggunakan AI dalam Situational Leadership?
AI tidak menggantikan situational leadership, tetapi bisa membantu leader menjalankannya lebih baik.
Contohnya:
menggunakan AI untuk merangkum progres 1-on-1 meeting
meminta AI membantu menyusun pertanyaan coaching
memakai AI untuk mengevaluasi apakah goal sudah cukup jelas
memanfaatkan AI sebagai thinking partner sebelum memberikan feedback
Namun keputusan akhirnya tetap ada pada leader.
Karena yang dibutuhkan anggota tim bukan hanya informasi, tetapi judgment, empathy, dan trust.
Bila Anda ingin mendalami bagaimana AI diterapkan secara lebih sistematis, Anda bisa merujuk ke AI Productivity Transformation Framework.
Key Insights
Situational leadership adalah kemampuan menyesuaikan gaya memimpin dengan kesiapan tim.
Tidak ada satu gaya kepemimpinan yang efektif untuk semua situasi.
Development level selalu terkait tugas spesifik, bukan label tetap pada seseorang.
Leader modern perlu kuat di diagnosis, coaching, dan adaptability.
AI bisa membantu leader berpikir lebih cepat, tetapi tidak menggantikan peran manusia dalam membaca konteks dan membangun trust.
Conclusion
Situational leadership tetap menjadi salah satu skill leadership paling praktis dan relevan hingga hari ini.
Di tengah dunia kerja yang makin kompleks, leader yang efektif bukan yang selalu paling banyak bicara atau paling cepat mengambil alih, tetapi yang tahu
kapan harus mengarahkan, kapan harus membimbing, kapan harus mendukung, dan kapan harus melepas.
Dan di era AI, kemampuan ini justru menjadi semakin bernilai. Karena ketika teknologi mengambil alih sebagian pekerjaan rutin, pembeda utama seorang leader tetaplah kemampuannya memahami manusia dan menumbuhkan mereka.
Bagaimana pendapat Anda?
Artikel ini saya tulis pertama kali beberapa tahun lalu, dan kini saya perbarui dengan perspektif terbaru terkait AI dan future of work.